Seruling Dewata

Home

Sejarah

Sesepuh

Profile

Tapak Suci

Cakra dan Kundalini

Kanda Pat

Yoga Watukaru

72 Jurus Inti

Buku - buku Perguruan

 
"Tiada benda tiada kesalahan, tiada keakuan mencapai kebahagian dan kelepasan "

Tapak Suci Sembila Dewa
|Wanaprastha - Samyasin|

Mudra

Mudra adalah gerakan tubuh atau anggota badan , gerakan atau posisi yang mempunyai pengaruh terhadap aliran prana didalam tubuh yang juga berpengaruh kepada kejiwaan . di Bali istilah Mudra sering di sebut dengan Tetanganan. adapun mampaat berlatih dan belajar Mudra Nawa Sanga adalah sebagai berikut :

1) dapat merangsang dan menggerakan pembuluh - pembuluh dalam badan, 2 ) Api dalam perut ( tenaga dalam ), diperbesar hingga terhimpum tenaga dalam yang berpusat di perut ( pusar ), 3 ) membersihkan dan membuka Nadhis, yaitu pembuluh tempat mengalirnya tenaga atau energi cakra., 4 ) Membersihkan dan membuka Garanthi , yaitu simpul Nadhis yang merupakan tempat bertemunya beberapa Nadhis, 5 ) Menggetarkan Dewa Dewa yang bersemayam dalam Cakra Cakra untuk memudahkan Cakra dan membangkitkan api Kundalini, 6 ) untuk mencapai kesempurnaan yoga.. seorang Yogi atau Yogini yang mengesampingkan latihan Mudra atau hanya berlatih satu atau dua Mudra saja , sehingga tidak lengkap , akan mengalami kegagalan Yoga. ( silahkan hubungi Pesraman Perguruan Seruling Dewata, bila ingin mendapatkan informasi lebih lanjut ) . " Beberapa contoh mudra Nawa Sangga ", seperti Mudra Iswara, Mudra Wisnu, Mudra Rudra, Mudra Mahadewa, Mudra Maheswara, Mudra Sambu, Mudra Sangkara, Mudra Brahma dan Mudra Siwa . Mudra Nawa Sangga merupakan bentuk sikap para Dewa ( Tuhan ), ketika sedang bersemadhi. Mudra ini harus di latih secara lengkap, tidak boleh berlatih hanya sebagian atau hanya mudra tertentu saja agar seluruh Nadhis dan Garanthi di bersihkan. apabila Mudra ini dilatih dengan tekun oleh seorang Yogi, maka akan membantu Yogi tersebut akan mencapai kesempurnaan yoga.(Ki Nantra, buku Pra Kundalini , hal 27 ).

Mudra Nawa Sanga secara lengkap adalah tahapan awal atau dasar atau pondasi latihan Cakra dan pembangkitan Kundalini. Meditasi pembukaan Cakra tanpa di awali latihan Mudra Nawa Sanga dapat berakibat buruk. Cakra yang telah terbuka disetiap putarannya memancarkan tenaga atau energi. kemudian energi atau tenaga ini mengalir keseluruh tubuh manusia malalui Nadhis, dan Garanthi. kalau seseorang belum berlatih Mudra tentu Nadhis atau Garanthis tidak bersih atau masih kotor dan tertutup. energi Cakra yang sudah terbuka akan membobol Nadhis dan Garanthis secara paksa. kekotoran Nahis atau Garanthis ikut dipancarkan keseluruh tubuh dan mengendap di bagian tertentu. kekotoran Nadhis dan Garanthis yang mengendap di organ tubuh tertentu dapat mengganngu fungsi organ tubuh bersangkutan. fungsin organ yang terganggu akan menimbulkan berbagai gangguan penyakit. banyak penulis lihat praktisi Cakra dan Kundalini yang mengumpulkan sejumlah orang baru kemudian dibukakan Cakranya semua langsung begitu saja. setiap orang selama 5-15 menit. tentunya Guru atau Master tidak tahu dan tidak memperhatikan apakah Nahis atau Garanthis orang baru dilihatnya itu sudah terbuka , bersih atau belum ?, hal ini tentunya bisa berakibat buruk bagi orang yang dibuka Cakranya dan ini sudah tentu merupaan suatu kesalahan besar, karena kelalaian dan kurang lengkapnya pengetahuan tentang Cakra dan Kundalini . Sebaiknya menurut Ki Nantra , sesepuh generasi IX Perguruan Seruling Dewata sebelum membuka Cakra sebelumnya harus melakukan latihan Mudra sedikitnya 1-2 minggu.

berikut penulis akan berikan satu contoh Mudra yaitu Mudra Iswara :

duduk bersila dengan, kaki kanan disepan " Suastikasana ", kedua tangan mekar, ujung jari ditengah, dan ibu jari bertemu, tangan kiri di lutut kiri, tangan kanan di didepan dada, jari jari menghadap ke atas, telapak tangan menghadap kekiri, inilah Mudra Iswara namanya.

Arti serta pengertian lebih luas tentang Mudra :

dalam buku Mudra yang ditulis oleh Sesepuh Generasi IX , Ki Nantra, mudra dikatakan mempunyai pengertian sebagai ujung atau merupakan sikap sikap tangan atau sebagai gerak gerak tangan yang mempunyai nilai atau kekuatan magis. secara morfologi Mudra dalam bahasa Sansekerta tidaklah dapat kita pisahkan , karena kata Mudra ini merupakan satu kata, hal ini dapat kita buktikan dengan adanya kata Mudra dalam bahasa jawa kuno yang asalnya dari bahasa Sansekerta secara etimologi berarti sikap tangan. Pengertian lainnya bahwa Mudra merupakan yang berfungsi untuk melindungi Bhuana Alit dan Bhuana Agung, di Bhuana Agung Mudra ini merupakan senjata Nawa Dewata yang jumlahnya sembilan buah senjata. sedangkan Mudra ( senjata ), yang dibentuk berdasarkan gerak tangan ini jumlahnya lebih kurang 16 ( enam belas ) yang dihitung berdasarkan pengider - ider satu bertempat ditengah sehingga jumlahnya menjadi 17 ( tujuh belas ) buah senjata yang mempunyai wujud dan fungsi sendiri. Mudra ini kebanyakan di pakai oleh sulinggih pada saat memuja atau melakukan upacara yang menggarisbawahi mantra. perpaduan seni Mudra dari agama ini mempunyai dasar simbolik yoga, seperti penyatuan Buddha di Bali kepada Wairocana, dengan wujud lainnya yaitu Dhyani Bodhi Sattwa Samantabhara. Hindu menyatu dalam Ciwa yang menyebutkan hidup dan gerak alam jasmani dan rohani. jadi sesungguhnya dari pengertian ini mudra adalah merupakan sikap tanagan dan senjata Nawa Dewata dan Dhyani Buddha di Bhuana Agung.

selanjutnya banyak bentuk Mudra kita jumpai dalam meditasi Kanda Pat, meditasi Ajian Ajian, Mudra Pengusadha, Mudra Yoga dalam ilmu silat tingkat tinggi, dan sebagainya.

Didalam Kanda Pat di Perguruan Seruling Dewata ada sekitar 57 macam Mudra, diantaranya Mudra Madu Kama, Mudra Panunggalan Semara, Mudra Pemutus Semara, Mudra Somyaning Butha , Mudra Penundung Bhuta, Mudra Pemrelina Butha, Mudra Pengancing Garba, Mudra Pemungkah Lawang, Mudra Pengempon Rare, Mudra sarining Merta, Mudra Sarining Ucap, Mudra Sarining Raksa, Mudra Urip Waras, Mudra Raksa Kemit, Mudra Merta Buana, Mudra Pengampak Sabda.

Sementara ada ribuan Mudra Ajian Ajian seperti Mudra Panca Dewata, Mudra Panca Brahma, Mudra Teja Angga Sarira, Mudra Pemalik Sumpah , Mudra Geni Prelina, Mudra Teterek, Mudra Nawa Sanga, Mudra Asta Bawa, Mudra Ong Kara Mumbul, Mudra Dharma Caruban, Mudra Wenara Petak, Mudra Suniata, Mudra Gunasih Aji Tastra, Mudra Durga Maya, Mudra Nesti Krodha Namo Dayah, Mudra Lampah Ing Lampah, Mudra Mandala Geni, Mudra Wesi Kuning, Mudra Tunggang Maruta, dan lain sebagainya.

Sementara dalam pengobatan Ilmu Bali Kuno yang terdapat dalam Pustakan " Walian - Cakti -Yoga - Cara - Bhumi - Castra , ada banyak mudra berkaitan dengan penyembuhan penyakit di antaranya 12 macam Mudra Pantog Rah yaitu bentuk sikap jari tangan yang biasa dipergunakan dalam menotok aliran darah, " Surya Mudra " untuk mengobati penyakit karena angin seperti : masuk angin, keringat dingin, perut kembung dan lain sebagainya, " Pertiwi Mudra " untuk menyembuhkan penyakit kuku, tulang, kulit dan sebagainya, " Waruna Mudra ", untuk mengobati penyakit perut dan apru paru, " Wisia Mudra " untuk menolak bisa, racun, cetik, dan sebagainya, sementara " Wresada Mudra " untuk menolak berbagai gangguan penyakit .

selanjutnya Mudra pula kita dapati pada benda benda budaya dan seni budaya, seperti : gerak Mudra pada tari - tarian sakral maupun tidak sakral, sikap tangan pada patung ( pratima ), dan gerak tangan pada seni wayang . sikap tangan yang dipergunakan umumnya telah mengalami perubahan sesuai dengan karakteristik seni itu sendiri .untuk memberikan gambaran bahwa sikap Mudra ini dipergunakan pada seni budaya, misalnya , seperti sikap : Amusti, sikap Kuta Mantra ( sikap menyembah ), Akasamudra , Kepalamudra, Wrasadamudra, dan Astramudra. perubahan sikap ini menjadi : Ngiting, Nuding, Jeriring, Manganjali dan lain sebagainya. disamping sikap tangan yang berasal dari Mudra, gerakan juga bersumber dari alam fauna dan flora, seperti sayur mayur, nuduk bungan tunjung, gelatik nuwut muring, dan yang lainnnya, setelah dipadukan menjadi sikap dan gerak tari sebagaimana yang kita dapati saat ini.

lebaih jelasnya lagi bahwa Mudra itu betul betul dipergunakan pada seni budaya, seperti sikpa tangan patung mempergunakan sikap Dhyana Mudra, Ngawa Sari, dan Amusti. ( di sadur dari buku Mudra, Paiketan Perguruan Seruling Dewata, di tulis oleh Ki Nantra ).

Mantram Guru :

penulis sedikit membahas mengenai mantram Guru, untuk menjadikan para Dewa sebagai Guru rohani atau Guru Spriritual , seseorang harus memohonya sendiri secara langsung kepada : Dewa Nawa Sanga " dengan merapalkan suatu mantram yang dinamakan Mantram Guru". disamping merapalkan Mantram Guru, untuk selalu mendekatkan diri kepada para Dewa, manusia harus memuja para Dewa setiap hari sesuai ketentuan dengan menggunakan Astawa yang dinamakan " Nawa Sangga Astawa ". adapun yang dinamakan Mantram Guru adalah sebagai berikut dan semua siswa harus merahasiakannya kepada orang lain karena merupakan kunci penghubung untuk mendapatkan bimbingan rohani dari para Dewa. ( silahkan hubungi Mandala atau Pesraman , bila ingin mengetahuai rahasia dari Mantram Guru yang maha suci ini ). seorang manusia yang telah bersungguh sungguh bertekad menjadikan para Dewa sebagai Guru Rhani, Guru Spiritual harus merapalkan mantram ini selama melakukan : Tapa Iswara, Tapa Wisnu, Tapa Rudra, Tapa Mahadewa, Tapa Maheswara, Tapa Sambu Sangkara, Tapa Brahma dan Tapa Siwa.

Nawa Sanga Astawa :

Sekelumit penulis akan menuturkan dan memberikan penjelasan mengenai " Nawa Sanga Astawa " , pada intinya Nawa Sanga Astawa adalah sembilan mantram utama yang maha Rahasia. disini penulis menyebut Mantram ( Sembilan Mantram Utama ), hanyalah untuk memudahkan pengertian semata. karena dalam Perguruan Seruling Dewata sejak jaman dahulu sudah ada ketentuan " hanya kata kata suci dalam kitab suci Weda yang boleh disebut Mantram , diluar itu semua disebut sebagai Astawa, Puja, Stute, Sloka dan sebagainya. Nawa Sanga Astawa terdiri dari Iswara Astawa, Wisnu Astawa, Rudra Astawa, Mahadewa Astawa, Maheswara Astawa,Sambu Astawa, Sangkara Astawa, Brahma Astawa, Siwa Astawa, mampaat yang diperoleh bagi seseorang yang rajin melakukan dan melaksanakan Nawa Sanga Astawa secara umum adalah : 1) Membersihkan atau menyucikan atman dari dosa - dosa kelahiran terdahulu, penyucian ini dilakukan oleh Dewa yang dipuja. 2 ) Melindungi diri dari gangguan niskala. Pada saat memuja Dewa menyucikan kita dengan sinar sucinya, kalau saat itu ada gangguan niskala sinar suci Dewa yang dipuja memusnahkan gangguan saat itu juga. 3 ) Terhindar dari alam neraka yang penug dengan siksaan , Yogi dan Yogini yang rajin melakukan dan memuja Dewa Nawa Sanga akan terhindar dari neraka, karena Dewa yang dipujanya akan memberikan anugrah Dewa Stana yaitu tinggal di alam Dewa untukbermeditasi sampai mencapai Moksa. 4 ) Membimbing manusia kearah Moksa, manunggal keesaan Hyang Widhi sebagai tujuan tertinggi dari agama kita. ( silahkan hubungi Mandala Tapak Suci atau Pesraman , bila ingin mengetahuai rahasia dari Nawa Sanga Astawa maha suci ini )

doa doa baik berupa Mantram , Astawa, Stute, Sloka, dan sebagainya dapat dikelompokan atas beberapa macam, namun untuk memudahkan pengertian sebut saja seuanya mantram sehingga ada kita kenal beberapa jenis mantram antara lain :

1 ) Paroksa Mantram , yaitu mantram yang memiliki tingkat kesukaran yang paling tinggi, mantram jenis ini hanya dapat dijangkau arti dan maknanya lewat petunjuk yang d wahyukan oleh Hyang Widhi / Dewa-Dewa,

2 ) Adyatmika Mantram , yaitu mantram yang memiliki tingkat kesukaran yang sedang , mantram ini dapat dimengerti maknanya melalui proses penyician diri. orang yang rohaninya masih kotor tidak mampu memahami arti dan makna Mantran ini.

3) Pratyaksa Mantram, yaitu mantram yang mudah dipahami. untuk mengungkap arti dan makna mantram ini cukup mengandalkan kecerdasan pikiran dan indra.

4) Satwika Mantram, yaitu mantram yang di ucapkan untuk pencerahan rohani, memperoleh sinar, kebijaksanaan, memperoleh kasih sayang yang tertinggi dari Hyang Widhi dan mendapatkan cinta kasih dan perwujudan Hyang Widhi.

5) Rajasika Mantram, yaitu mantram yang diucapkan untuk memperoleh kekayaan , keselamatan, dan kemakmuran duniawi.

6) Tamasika Mantram, yaitu mantram yang diucapkan untuk mendamaikan para Bhutakala, untuk melawan dan menghancurkan Bhutakala dan dari berbagai gangguan dari ilmu hitam lainnya.

Mudra Nawa Sanga secara lengkap adalah tahapan awal atau dasar atau pondasi latihan Cakra dan pembangkitan Kundalini. Meditasi pembukaan Cakra tanpa di awali latihan Mudra Nawa Sanga dapat berakibat buruk. Cakra yang telah terbuka disetiap putarannya memancarkan tenaga atau energi. kemudian energi atau tenaga ini mengalir keseluruh tubuh manusia malalui Nadhis, dan Garanthi. kalau seseorang belum berlatih Mudra tentu Nadhis atau Garanthis tidak bersih atau masih kotor dan tertutup. energi Cakra yang sudah terbuka akan membobol Nadhis dan Garanthis secara paksa. kekotoran Nahis atau Garanthis ikut dipancarkan keseluruh tubuh dan mengendap di bagian tertentu. kekotoran Nadhis dan Garanthis yang mengendap di organ tubuh tertentu dapat mengganngu fungsi organ tubuh bersangkutan. fungsin organ yang terganggu akan menimbulkan berbagai gangguan penyakit. banyak penulis lihat praktisi Cakra dan Kundalini yang mengumpulkan sejumlah orang baru kemudian dibukakan Cakranya semua langsung begitu saja. setiap orang selama 5-15 menit. tentunya Guru atau Master tidak tahu dan tidak memperhatikan apakah Nahis atau Garanthis orang baru dilihatnya itu sudah terbuka , bersih atau belum ?, hal ini tentunya bisa berakibat buruk bagi orang yang dibuka Cakranya dan ini sudah tentu merupaan suatu kesalahan besar, karena kelalaian dan kurang lengkapnya pengetahuan tentang Cakra dan Kundalini . Sebaiknya menurut Ki Nantra , sesepuh generasi IX Perguruan Seruling Dewata sebelum membuka Cakra sebelumnya harus melakukan latihan Mudra sedikitnya 1-2 minggu.

Penjelaasan singkat mengenai Materi Tapak Suci Sembilan Dewa :

Seorang yogi untuk mendapatkan 2 ( dua ) anugrah utama yaitu : “ Padma Mandala “ dan Dewa Sthana “, harus melakukan 9 ( sembilan ), tahapan yang dinamakan “ Tapa Nawa Sanga”, kesembilan Tapa Nawa Sanga tersebut adalah :

  1. Tapa Iswara, 2. Tapa Wisnu, 3. Tapa Rudra , 4 . Tapa Mahadewa, 5. Tapa Maheswara, 6. Tapa Sambu, 7 .Tapa Sangkara, 8. Tapa Brahma , 9. Tapa Siwa .

Anugrah Padma Mandala; adalah anugerah disucikan dan dilindungi oleh Dewa-Dewa dari segala penjuru. “ Anugerah Dewa Sthana “ adalah anugerah bisa tinggal dialam Dewa saat meniggal dan mendapat bimbingan rohani secara langsung dari Dewa dalam melakukan Samadhi sampai mencapai moksa.

Seorang Yogi/Yogini yang melakukan Tapa Nawa Sanga “, melaksanakan materi pokok tiap-tiap Tapa, sebanyak 24 ( dua puluh empat ), kali latihan dengan ketentuan 1( satu ) kali latihan di Pasraman/Padepokan yang dinamakan Mula Tapa dan 7 ( tujuh kali ) di Mandala masing-masing dan 16 ( enam belas kali ) dilakukan mandiri dirumah masing-masing.

Sebagai kegiatan akhir dari tiap-tiap Tapa, maka diadakan Tirta Yatra, ke Pura dimana kesembilan Dewa Nawa Sanga bersthana, seperti misalnya : Tapa Iswara nutup tapa di Pura Lempuyang, Tapa Wisnu nutup tapa di Pura Ulun Danu, dan yang lainnya sesuai dengan tempat dimana ( Pura ), Dewa tersebut bersthana.

Sehabis melakukan nutup tapa, dilanjutkan dengan latihan mental, berupa Harta Dana”, setulus –tulusnya untuk pembangunan Pasraman / Padepokan.

mengenai materi latihan Tapak Suci Sembilan Dewa atau Tapak Suci Yogacara Bhumi Sastra kususnya penjelasan mengenai Yogacara Nawa Sanga , silahkan baca

|Puja Widhi Astawa | Nawa Sanga Yoga Cara |gambar Tapak Suci | Mudra nawa sanga |

 

     
" Warta perguruan memuat sepenggal kisah Mahapatih Gajahmada dan Ki Soma Kepakisan , serta beberapa kegiatan Perguruan "
 
Home|Sejarah|Sesepuh|Profile|Tapak Suci|Cakra dan Kundalini|Kanda Pat|Yoga Watukaru|72 jurus inti|Ilmu Silat Tali Rasa|Walian Sakti|Contact Us|
the official website of Paiketan Paguron Suling Dewata Bali Copyright 2011 seruling dewata bali, All Rights Reserved